MFAXII x SURIALISM
DELAPAN TAHUN MENGENDAP: MFAXII x SURIALISM RAMPUNGKAN RITUS GARIS DAN BAYANG
Bandung — Delapan tahun membelenggu sebelum satu garis pun dianggap final. Satu bidang kertas, dua tangan dan sebuah karya yang memilih matang ketimbang tergesa-gesa.
Dua seniman gambar penuh talenta yakni, MFAXII asal Bandung dan dari Bogor, Surialism merilis kolaborasi yang mulai digarap tahun 2018 dan baru benar-benar tuntas di 2026. Sebuah ilustrasi tinta hitam putih yang padat, gelap dan sarat detail. Hasil dari dua pendekatan menggambar yang dipertemukan tanpa niat mencari kompromi.
MFAXII menggarap garis sejak 2009. Ia mulai dari proses yang sempat berbagi tanggung jawab dengan Gumpita Rahayu, pendiri Tokotype, sebelum akhirnya berjalan sendiri dan menetap total di ranah hitam putih. Gaya ini cukup keras, presisi, hidup dari kerapatan garis yang membentuk tekstur nyaris seperti ukiran kayu.
Sedangkan Surialism datang dari arah berlawanan. Mulai serius menggambar 2018, membangun bahasa visual dari kekaguman pada Shohei Otomo, João Ruas, dan Aaron Horkey, lalu menerjemahkannya lewat pena teknik dan ballpoint menjadi dunia surealis yang janggal, organik, dan tidak tunduk pada logika ruang.
Dua kepala itu bertemu di satu bidang kertas yang sama. Naga berlapis zirah menjalar dari sudut atas, kepalanya berkelindan dengan cerobong asap yang menembus langit bergurat tebal. Di bawahnya, seorang ksatria menggenggam pedang, wajahnya nyaris tenggelam dalam detil baju besi dan tekstur organik yang meliar. Sepasang mata tunggal mengawasi dari puncak bingkai bermotif klasik, seolah menahan seluruh komposisi agar tidak runtuh oleh bebannya sendiri. Tidak ada ruang kosong yang dibiarkan bernapas. Setiap milimeter diperebutkan oleh garis.
Ada yang membuat karya ini berat bukan hanya volume rincinya, tetapi jejak waktu yang tertanam di dalamnya. Tahun 2019, pengerjaan terhenti total setelah tangan Surya mengalami cedera terkena gurinda. Ia baru bisa melanjutkan di 2020 dan menuntaskan bagiannya setahun setelahnya. MFAXII sendiri mengaku lupa persis kapan ia menjemput karya itu dari Bogor ke Bandung untuk disatukan dengan bagiannya. Untungnya tidak ada klien menunggu di ujung tenggat. Atau deadline yang sudah jatuh tempo. Nyatanya hanya dua orang yang membiarkan karya ini bergerak menurut iramanya sendiri, di sela kesibukan masing-masing
“Gak ada hal yang besar atau mendalam yang menceritakan dari gambaran konsep artworknya sendiri,” ujar MFAXII.
Baginya karya ini adalah penanda waktu, bukan menjadi sebuah pernyataan pasti. Kebanggaannya bukan pada kerumitan objek atau detil yang menonjol, tapi pada proses yang terekam setiap kali ia menatap hasil akhirnya. kondisi apa yang sedang ia rasakan, musik apa yang sedang menjadi favoritnya, apa yang sedang terjadi di luar sana saat garis demi garis itu dibentuk.
Surialism pun berangkat dari titik yang sama. “Hidup terasa cepat dan penuh ketidakpastian, demikian dengan menggambar terasa memperlambat,” ucapnya.
Menurutnya menggambar adalah ruang untuk menuangkan ide liar tanpa dituntut logis, tidak harus dibatasi tujuan yang harus dipenuhi. Sekelumit jeda di tengah tekanan dan tuntutan yang terus berdatangan. Kolaborasi ini ia maknai sebagai wadah meluapkan emosi lewat proses berkarya itu sendiri, sekaligus jalan untuk, “Meniti balik ke awal mula agar tidak lupa mengapa saya melakukan ini.”
Tidak ada visi besar yang digaungkan di balik karya ini dan justru itu intinya. Dua seniman disertai dua gaya yang berlawanan arah, dikawinkan nir ekspektasi juga tanpa harus terburu waktu. Delapan tahun kemudian, yang tersisa bukan sekadar karya yang selesai, namun bukti bahwa proses yang dijalani pelan-pelan, tanpa tuntutan, masih bisa menghasilkan sesuatu yang berat, gelap dan hidup.
MFAXII x SURIALISM,
“8 Tahun Mengendap: MFAXII x SUSIALISM, Ritus Garis & Bayang”
By Karel (25 Aug 2026)
MFAXII 2026